Kebakaran hebat yang melanda sebuah kota di Hawaii berawal dari kebakaran hutan yang menyebar dan menyapu apapun yang di sekitarnya. Dampaknya sungguh dahsyat, langsung merubah kota tersebut menjadi kota mati.
Beberapa hari yang lalu telah terjadi kebakaran hutan di Hawaii yang kemudian menyebar ke pemukiman warga akibat angin kencang dan memperluas jangkauan api. Sungguh menakutkan melihat si jago merah melalap habis apa yang ada di depannya, baik bangunan, kendaraan maupun nyawa manusiapun bisa menjadi sasarannya dengan mudah. Tapi, tak hanya di luar negeri, di Indonesia juga sering terjadi kebakaran hutan.
Selain kebakaran hutan, lahan gambut di Indonesia juga menjadi sasaran empuk si jago merah ini. Ekosistem lahan gambut umumnya terletak diantara dua Sungai atau rawa-rawa. Ekosistem ini disebut dengan KHG. Menurut data, berikut ini merupakan KHG yang mempunyai risiko tinggi terhadap kebakaran di lahan gambut.
Apa saja faktor terjadinya kebakaran di lahan gambut?
Kebakaran di lahan gambut yang terjadi di Indonesia di sebabkan tiga faktor utama yaitu kondisi bahan bakar, cuaca, dan budaya masyarakat. Kondsi bahan bakar yang rawan terhadap bahaya kebakaran adalah jumlahnya yang melimpah di lantai hutan, kadar airnya relative rendah (kering), serta ketersediaan bahan bakar yang berkesinambungan.
Faktor iklim berupa suhu, kelembaban, angin dan curah hujan turut menentukan kerawanan kebakaran. Suhu yang tinggi akibat penyinaran matahari langsung menyebabkan bahan bakar mengering dan mudah terbakar, angin juga turut mempengaruhi proses pengeringan bahan bakar serta kecepatan menjalarnya api sedangkan curah hujan mempengaruhi besar kecilnya kadar air yang terkandung dalam bahan bakar.
Faktor-faktor yang paling dominan (akibat ulah manusia) diantaranya pembukaan lahan pertanian (dengan alasan ingin menghemat biaya dan mempercepat pembukaan lahan untuk pertanian), faktor ketidaksengajaan seperti membakar sampah, masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran hutan (misalnya membuang puntung rokok pada dedaunan yang kering), kurangnya kemampuan aparatur pemerintah dalam hal koordinasi maupun penyuluhan tentang bahaya kebakaran hutan, penebangan hutan secara illegal serta belum efektifnya penanggulangan kebakaran akibat masih minimnya fasilitas.
Kerawanan terjadinya kebakaran hutan dan lahan gambut tertinggi terjadi pada musim kemarau dimana curah hujan sangat rendah dan intensitas panas matahari tinggi. Puncak Kemarau 2023 diprediksikan terjadi di Agustus 2023 meliputi Sumatera Selatan bagian timur, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, sebagian Pulau Sulawesi, sebagian Papua.
Bagaimana kebakaran di lahan gambut bisa terjadi?
Kebakaran di lahan gambut biasanya diawali dengan penyulutan api di atas permukaan tanah. Api akan bergerak ke segala arah, bawah permukaan, atas permukaan, kiri, kanan, depan dan belakang. Penjalaran api ke bawah permukaan yang membakar lapisan gambut dipengaruhi oleh kadar air lapisan gambut dan tidak dipengaruhi angin sebagai kebakaran bawah (ground fire). Api akan bergerak ke atas permukaan dipengaruhi oleh kecepatan dan arah angin sebagai kebakaran permukaan (surface fire) dan bila mencapai tajuk pohon akan menjadi kebakaran tajuk (crown fire). Bagian pohon/ranting/semak yang terbakar dapat diterbangkan angin dan jatuh ke tempat baru sehingga menyebabkan kebakaran baru sebagai api loncat (spot fire/spotting).
Apa saja manfaat lahan gambut bagi manusia dan lingkungan ?
Lahan gambut memiliki manfaat bagi manusia maupun lingkungan yaitu kemampuan menyimpan karbon dalam jumlah banyak dimana mampu menampung hingga 30 persen jumlah karbon dunia agar tidak terlepas ke atmosfer. Selain itu, lahan gambut memiliki fungsi untuk mencegah perubahan iklim, bencana alam, hingga menjadi penunjang perekonomian masyarakat sekitar misalnya untuk sektor perikanan (dekat dengan sungai/rawa) maupun pertanian (lahan gambut yang tidak tebal). Contoh lainnya adalah pohon sagu yang tumbuh di lahan gambut dan ikan gabus yang hidup di rawa atau sungai sekitar lahan gambut. Pohon sagu ini bisa kita manfaatkan dan diolah menjadi bahan makanan.
Bagaimana dampak dari adanya kebakaran di lahan gambut?
Sudah sangat jelas bukan, kebakaran yang melanda di lahan gambut akan merusak ekosistem lingkungan sekitar, terjadi pencemaran tanah, udara dan pencemaran air. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran akan menganggu Masyarakat bahkan mengancam kesehatan Masyarakat. Sudah pasti akan menimbulkan banyak dampak negatif dibandingkan dampak positifnya. Sebagai informasi, di bulan agustus ini sudah terjadi beberapa kebakaran hutan diantaranya di sejumlah daerah di Kabupaten Kubu Raya (Kalimantan Barat), Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi. Sungguh sedih dan miris
Lantas kita harus bagaimana?
Menurut saya langkah tepat yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan edukasi dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian menyebar ke masyarakat. Mengingatkan jika ada yang membuang puntung rokok sembarangan (apalagi ke tumpukan dedaunan kering), membakar sampah dekat dengan hutan dan lain sebagainya. Selanjutnya mendukung pemerintah untuk lebih ketat terhadap aturan dan memberikan ganjaran yang setimpal jika ada yang melakukan pembakaran hutan demi kepentingan pribadi. Selain itu, memperbanyak pengetahuan seperti diskusi bersama dengan teman yang tertarik di bidang lingkungan (baik online maupun offline).
Semoga saja dengan #BersamaBergerakBerdaya dan lebih terbukanya pengetahuan dan kesadaran masyarakat, pemerintah dan pihak yang bersinggungan dengan kebakaran hutan ini, “Merdeka” dari kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mimpi dan bisa terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi. Jadi bagian di Team Up For Impact (TUFI) bisa juga menjadi salah satu langkah untuk lebih peduli lingkungan, Gaskeun skuy!
Salam.
Sumber:
Kumalawati, Rosalina dkk. Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Kabupaten Barito Kuala.
pantaugambut.id/pelajari/fungsi-ekosistem-gambut
pkgppkl.menlhk.go.id/v0/fungsi-ekosistem-gambut-nasional-skala-1250-000/
kompas.com
brgm.go.id
Ulah manusia memang, ada aja mereka. Memaksa sebuah lahan gambut dijadikan tempat yang lebih komersil.
Semoga tidak terjadi lagi karhutla di negara kita ya. Meskipun nampaknya susah, karena titik panas dia area KHG udah banyak banget.
Kadang lagi kerja sambil ngerokok trus puntung dibuang sembarangan, alhasil malah kebakaran jadinya.
Harus dihukum ngga si mba kaya gitu tuh..
Peristiwa kebakaran di Hawaii beberapa waktu lalu sungguh mengejutkan ya .. semoga tidak ada lagi kejadian serupa itu, termasuk di negara kita.
Makin miris liat kebun2 gersang dan tanaman menguning akhir2 ini. Semoga himbauan tentang bahaya karhutla ini semakin digalakkan dimana2 agar masyarakat semakin aware, karena dampaknya luar biasa merugikan.