Pernah dengar cerita dari orang tua atau sesepuh kalau zaman dulu itu makanan adalah hal yang mahal? Rebutan makanan di sebuah keluarga itu hal yang sangat wajar terjadi. Bahkan selalu tidak ada yang tersisa setelah ibu memasak?
Mungkin akan relate dengan yang satu ini, di tahun 2000an saat masih remaja dulu selalu berebut nasi (makanan hasil pengajian) yang dibawa pulang oleh Ayah, tapi sadar tidak sampai sekarang ini, rasanya semakin sedikit peminatnya di rumah. Tak jarang, nasi berkat akan didiamkan hingga keesokan harinya dan akhirnya terbuang percuma atau menjadi waste food.

Mari kita bayangkan sejenak, jika sisa makanan dari satu rumah saja sudah banyak apalagi dalam sebuah desa? Satu kecamatan? Satu kota bahkan satu negara? Sedihnya lagi makanan sisa atau waste food bisa menimbulkan kerugian, apa saja hayo kira-kira?
Beberapa alasan penting, mengapa perlu mengurangi atau bahkan menghilangkan kebiasaan menyisakan makanan (membuang makanan) :
- Sampah makanan berkontribusi terhadap perubahan iklim dan efek rumah kaca. Sampah yang ada pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan mengalami pembususkan sehingga menghasilkan gas metana yang akan menyebabkan efek rumah kaca. Hal ini akan berimbas pada perubahan iklim dan keseimbangan alam.
- Tidak sehatnya lingkungan sekitar. Dampak bagi lingkungan yang sering dihadapi adalah meningkatkan populasi binatang yang hidup di sekitar sampah yang kemudian bisa menyebabkan penyakit baik yang menular maupun tidak (ISPA, Diare, Typus dan kawan-kawannya).
- Polusi tanah, air dan juga udara juga akan meningkat seiring meningkatnya sampah. Membayangkannya saja mengerikan, contohnya dari bau busuk yang menyengat dari sampah yang tidak diolah. Sampah di rumah saja jika dibiarkan selama 3 hari akan menebarkan harum semerbak, bagaimana jika sampah itu menumpuk seminggu? Sebulan? Setahun? Membayangkannya saja menakutkan rek.
- Membuang air. Air digunakan dalam berbagai aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya makanan terbuang sia-sia, hal tersebut berarti semua energi dan air yang telah digunakan untuk pertumbuhan, pemanenan, pengangkutan, dan pengemasan juga terbuang sia-sia.
- Membahayakan biodiversitas. Polusi yang disebabkan oleh adanya sampah menyebabkan banyak flora dan fauna alami yang musnah. Belum penggunaan lahan yang seenaknya sehingga berdampak pada keberadaan flora dan fauna yang semakin menurun.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU) pada tahun 2017, rata-rata orang Indonesia membuang pangan sekitar 300 kilogram setiap tahunnya. Masya Allah, mungkin kalau itu emas bakal jadi rebutan ya!
Tips berikut bisa teman-teman coba agar tidak membuang makanan dan akan mengurangi limbah makanan di rumah
- Hanya membeli apa yang dibutuhkan. Membeli dalam jumlah kecil, misal untuk memasak beberapa hari saja. Lebih mudah lagi jika bisa dipacking sesuai hari, sehingga tidak ada bahan makanan yang tersisa.
- Gunakan bahan makanan yang lebih awal dibeli. Jadi kita bisa menyiasatinya dengan menyimpan bahan makanan yang dibeli dulu di bagian depan penyimpanan. Tentukan juga sekiranya bahan yang mudah busuk agar digunakan lebih dahulu.
- Perhatikan cara penyimpanannya. Cari tahu mana bahan yang bisa dimasukkan ke kulkas, mana yang tidak. Mana yang bisa dicuci terlebih dahulu sebelum disimpan dikulkas maupun sebaliknya. Kepo adalah jurus terbaik ya bun!
- Dibekukan. Misalkan seperti daging, sayur atau buah yg bisa dimasukkan ke dalam frizzer seperti frozen food juga masih menjadi trend saat ini agar makanan tetap awet dan meminimalisir makanan yang dibuat.
- Pastikan porsi yang tepat. Ketika sedang memasak suatu hidangan, pastikan membuatnya dalam porsi yang tepat. Hal ini dilakukan agar tidak membuang makanan yang tersisa. Kalau ini saya juga masih belajar sih, kadang kurang kadang lebih.
- Memberikan pada orang lain. Selalu ingat bahwa di luar sana masih ada yang tidak bisa membeli makanan. Apabila dirasa makanan yang dipunyai terlalu banyak, bisa disedekahkan untuk orang-orang yang membutuhkan, seperti anak jalanan, pemulung, tukang parkir, tukang ngamen dan lain-lain.

Indonesia yang menempati peringkat kedua sebagai negara penghasil food waste atau limbah makanan tertinggi di dunia harus menjadi renungan bersama. Generasi muda Indonesia harus semangat menjaga bumi agar tidak menjadi generasi waste food yang merugikan lingkungan. Yuk #ecobloggersquad mulai dari diri sendiri untuk selalu cermat dalam mengelola makanan dan membeli makanan sesuai kebutuhan agar tidak ada yang terbuang lagi dengan sengaja dan percuma.
Salam.
Sumber:
https://aliansizerowaste.id/2022/05/11/sisa-makanan-jadi-limbah-dominan-apa-dampaknya/
https://dlh.probolinggokab.go.id/sampah-makanan-dan-dampaknya-bagi-lingkungan/
https://news.unair.ac.id/2022/03/01/upaya-penerapan-ekonomi-sirkular-dalam-rangka-pengurangan-limbah-makanan-di-indonesia/?lang=id
Aku sudah menerapkan poin pertama yang hanya membeli apa yang dibutuhkan. Karena ini penting bangettt! Selain juga biar ga mubazir, juga bisa irit 🙂 thanks ka sudah sharing
Paling sebel sama buibu yg bawa Anka di resepsi pernikahan. Dia suruh anaknya ambil semua makanan, tapi ga dimakan habis
Bener mubadzir. Ibunya bukan kasih contoh baik, malah nyontohin gak bener juga. Nasi menggunung dengan lauk pauk ga habis. Buat apa ia ambil banyak kalau gak dihabiskan?
Perlu direvolusi mental memang orang kaya gitu
Kaget plus sedih juga begitu tahu kalau Indonesia ada di peringkat ke 2 untuk urusan menyia-nyiakan makanan. Ternyata segitu boros dan mubazirnya ya kita. Yuk, bisa yuk, semangat untuk lebih baik lagi mengelola makanan. Mulai dari di rumah masing-masing, mudah-mudahan semua semakin terbiasa.
Sedih banget kalo ada sisa makanan dan terpaksa harus dibuang. Makanya di rumah sering buat masakan porsi personal udah kayak ala-ala cafe, ribet dan muter otak tapi jadi minim food waste. Suka ngebayangin orang di luar sana masih banyak yang kelaparan, kita sembarangan buang makanan.
jadi inget perkataan para orang tua dari zaman aku kecil dulu, “kalau makan dihabiskan, jangan nyisakan nasi”
cuman kadang aku kalau makan saat itu pernah ga habis juga dan ujung-ujungnya dibantu habiskan sama orang tua
Dan sekarang, aku berusaha untuk membeli makanan atau ambil makanan sesuai kebutuhan aja, kalau sekiranya masih cukup kenyang, ambil makanannya sedikit aja
Aku lagi Istiqomah nerapin ini di rumah, tidak membuang-buang makanan. Salah satunya tu kalau masak aku usahakan banget sesuai porsi masing-masing. Kalaupun lebih itu pun nggak sampai banyak.
Btw terima kasih sudah mengingatkan ya, Kak.
Zaman dulu rebutan makanan mungkin hal lumrah di berbagai daerah karena masih zaman sulit, baru merdeka, sekarang malah orang buang-buang makanan. Padahal itu gak baik, buang-buang rezeki, dan masih banyak orang kelaparan, pastinya. Lagian buang makanan hanya akan menjadi sampah pendorong perubahan iklim terjadi.
Ya Allah iya loh mbak jadi keinget kemarin baru dapat berkat belum sempat kemakan. Akhirnya pagi pagi buta langsung aku panasin biar nggak sampek buang makanan
Limbah makanan yang memang butuh kerjasama kita semua dalam menanggulanginya. Sama perubahan pola pikir ya, agar gak lapar mata
Membeli seperlunya memang perlu ditanamkan sejak dini dan mengajarkan anak sadar akan kesehatan lingkungan sangat diperlukan. Pola pikir dan pola hidup yang kurang sehat sering kali menimbulkan banyak hal negatif termasuk meningkatnya produksi sampah rumah tangga.
Duuuh…ngeri ya membaca dampak sampah makana terhadap lingkungan kita..hiks.. Jadi makin keras berusaha untuk menghindari terjadinya sampah makana nih. Trims utk tips-tipsnya ya..
Sama sama mbak, sama saya juga sudah mulai mengurangi pembelian bahan makanan. Ngga papa lah kurang dari pada lebih, sekarang prinsipnya gitu.