Kerja Tiap Hari, Nggak Punya Waktu Healing: Emang Lagi Masanya

Kalau lagi kerja, kadang saya suka mikir, “hidup saya sekarang kayak roller coaster yang nggak berhenti”. Dari Senin sampai Minggu, rasanya selalu ada aja yang harus dikerjakan. Pagi ngajar di lembaga A, siang pindah ke lembaga B, malam masih harus nyiapin bahan atau revisi tugas dari lembaga lain. Kadang saya sendiri sampai lupa kapan terakhir kali bangun pagi tanpa mikir harus ke mana hari itu. Kalau dulu orang bilang, kerja dari Senin sampai Jumat itu padat, saya bisa bilang: saya kerja tiap hari. Bukan karena nggak bisa istirahat, tapi karena memang kerjaan datang terus dan saya sendiri belum tega buat nolak. Emang terkesan menyiksa, tapi kalau dijalani dengan bahagia semua terasa mudah dilalui.

Kerja Antara Passion dan Kewajiban

Saya suka mengajar. Dunia pendidikan itu bikin saya hidup. Tapi selain jadi guru, saya juga punya peran lain di beberapa lembaga swasta. Ada yang bergerak di pelatihan, ada yang fokus di proyek edukasi. Semuanya menarik, dan semuanya bikin saya berkembang. Tapi di balik rasa bangga itu, ada kenyataan lain: waktu saya untuk diri sendiri jadi hampir nggak ada.

Kadang teman-teman bilang, “Kamu sibuk banget ya, kapan healing-nya?” Saya cuma bisa senyum. Healing? Saya bahkan lupa rasanya rebahan tanpa mikirin deadline. Hari libur sering kali bukan waktu istirahat, tapi waktu buat nyelesein pekerjaan yang belum sempat disentuh di hari biasa. Tapi anehnya, saya tetap menikmatinya. Ada rasa puas ketika bisa menuntaskan banyak hal. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat hasil kerja nyata dari usaha sendiri. Capek sih iya, tapi ada makna di baliknya. Fun fact banget ini, bangun tidur langsung kepikiran nanti ngapain waktu di dalam kelas!

Hidup di Era Banyak Peran

Saya sadar, mungkin saya nggak sendirian. Sekarang banyak orang yang hidup dengan ritme seperti ini. Zaman sekarang memang menuntut kita buat punya banyak peran. Satu pekerjaan aja kadang belum cukup, baik dari sisi ekonomi maupun pengembangan diri. Kita harus adaptif, kreatif, dan bisa “nyambungin” berbagai peran supaya tetap relevan.

Saya sering merasa kayak punya banyak “versi diri”. Di satu tempat saya dikenal sebagai pengajar, di tempat lain sebagai penulis modul, kadang juga jadi narasumber. Dunia kerja sekarang nggak lagi sesederhana satu profesi, tapi lebih ke kombinasi berbagai peran yang saling melengkapi. Banyak orang bilang itu keren, tapi di baliknya ada cerita lelah yang nggak kelihatan. Karena semakin banyak peran yang diambil, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijaga.

Antara Produktif dan Kehilangan Diri

Saya pernah sampai di titik di mana semua jadwal terasa tumpang tindih. Setiap waktu saya diatur oleh kalender, bukan oleh keinginan sendiri. Rasanya produktif, tapi juga hampa. Saya sadar, saya sedang kehilangan ruang untuk bernapas. Di titik itu saya mulai bertanya, “Saya kerja buat apa, sih?” Awalnya saya jawab buat berkembang. Tapi makin ke sini, saya sadar: berkembang juga butuh jeda. Nggak bisa terus berlari tanpa tahu arah. Punya banyak pekerjaan itu bukan salah. Tapi kalau sampai nggak punya waktu buat diri sendiri, itu tandanya ada yang perlu diatur ulang. Saya belajar pelan-pelan buat bilang “tidak” ke beberapa tawaran, dan fokus di hal yang benar-benar saya nikmati.

Normalisasi “Sibuk”

Tapi saya juga paham, sekarang ini memang zamannya orang sibuk. Rasanya aneh kalau sehari nggak ada kegiatan. Banyak orang yang takut dianggap malas, takut ketinggalan. Saya pun sempat begitu. Padahal, sibuk itu nggak selalu berarti produktif. Kadang kita cuma takut berhenti. Takut kehilangan momentum. Tapi justru dari berhenti sebentar, kita bisa lihat gambaran besar hidup kita dengan lebih jernih. Saya sekarang mulai belajar buat nggak merasa bersalah kalau sesekali ingin istirahat. Saya mulai belajar bahwa healing itu nggak harus pergi jauh. Kadang cukup matikan notifikasi, minum kopi sore-sore, atau duduk di teras tanpa buka laptop.

Menemukan Ritme Kerja yang Baru

Hidup dengan banyak pekerjaan mengajarkan saya banyak hal. Tentang disiplin, tentang tanggung jawab, dan juga tentang mengenali batas diri. Saya jadi sadar, sukses itu bukan berarti nggak pernah berhenti — tapi tahu kapan harus jalan pelan, kapan harus berlari, dan kapan harus berhenti sejenak buat mengatur napas.

Saya masih punya banyak pekerjaan, iya. Tapi sekarang saya mencoba menjalani semuanya dengan lebih sadar. Saya nggak lagi ingin jadi orang yang “sibuk terus”, tapi orang yang “bermakna di setiap kesibukan”. Karena di ujungnya, kita nggak diukur dari seberapa banyak pekerjaan yang kita punya, tapi dari seberapa bahagia dan bermaknanya kita menjalani hidup.

Jadi, buat siapa pun yang lagi sibuk tujuh hari seminggu kayak saya, nggak apa-apa. Kamu nggak salah. Kita cuma hidup di zaman di mana semua hal serba cepat. Tapi jangan lupa, di balik semua kesibukan itu, kita juga tetap manusia yang butuh diam, butuh tenang, dan butuh merasa hidup, bukan sekadar bekerja. Intinya disela sela semua itu, gaskan cari sesuatu yang membuatmu bahagia dan rileks sehingga bisa menghadapi lagi dunia yang sedang kita rancang.

Tinggalkan komentar