Cerita ini saya awali dengan celotehan saudara saya (kelas 1 SD) yang menyampaikan tidak mau kembali ke sekolah untuk belajar dikarenakan pembelajaran yang semakin susah (menurutnya). Ternyata setelah dipikir pikir, memang selama pandemi, belajar menjadi salah satu kegiatan yang membosankan dan tidak lagi menjadi suatu kewajiban seperti sebelumnya. Faktor orang tua, lingkungan maupun kondisi siswa sendiri adalah gambaran mengapa siswa ada yang bahagia kembali sekolah atau malah malas kembali ke sekolah. Akhirnya Mas Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi menawarkan kurikulum baru supaya anak semangat kembali ke sekolah untuk belajar. Kurikulum baru ini disajikan dengan lebih sederhana, simpel dan hanya akan memperhatikan materi esensial atau pokok saja, Kurikulum Merdeka Belajar sebutannya.
Latar belakang lainnya mengapa ditawarkan kurikulum ini adalah rendahnya kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia dibandingkan dengan negara lainnya. Hal ini menjadi penyebab kemampuan pemahaman matematika siswa Indonesia juga rendah. Lalu bagaimana karakteristik Kurikulum Merdeka ini? Simak ulasan berikut ya!
Karakteristik Kurikulum Merdeka diantaranya:
1. Fokus pada materi esensial, pembelajaran mendalam pada kompetensi dasar terutama literasi dan numerasi.
Materi lebih simpel dan sederhana atau hanya yang pokok saja. Jika diperhatikan dari segi Modul Ajar, Pada Kurikulum ini memang pembelajaran terlihat lebih sederhana. Selain itu, guru juga difokuskan pada pembelajaran dan akan dikurangi administrasi seperti RPP, Program Semester, Silabus dan lain-lain. Hal ini dikarenakan semua administrasi sudah tersedia contohnya dan bisa dibuat dengan mudah.
2. Pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil pelajar pancasila.
Profil pelajar pancasila ini menjadi faktor lainnya mengapa Kurikulum Merdeka ini ada. Hal ini dikarenakan banyaknya sikap anak Indonesia yang mulai jauh dari nilai-nilai luhur pancasila. Sehingga pada kurikulum ini, karakter dan soft skill siswa lebih diperhatikan. Selain itu, pembelajaran di sekolah terbagi menjadi 2 pembelajaran yaitu pembelajaran intrakurikuler dan pembelajaran kokurikuler. Pembelajaran intrakurikuler merupakan pembelajaran yang biasa dilakukan di kelas sedangkan pembelajaran kokurikuler merupakan pembelajaran berbasis proyek misalnya saja berkunjung ke museum atau tempat edukasi lainnya.
3. Fleksibilitas dalam melakukan pembelajaran sesuai dengan konteks dan kebutuhan siswa.
Tidak hanya siswa, guru dan sekolah mempunyai fleksibilitas tersebut. Misalnya saja pada jenjang SMA, siswa dikelas X siswa belum ada peminatan dan penjurusan sehingga semua siswa wajib mengambil mapel dikelompok IPA dan IPS seperti halnya di SMP dulu. Sedangkan di kelas XI dan XII siswa wajib mengambil mapel umum dan 4-5 mapel pilihan sesuai bakat, minat dan kecenderungan siswa. Hal ini bisa dikonsultasikan dengan guru BK, orang tua dan siswa. Menariknya bukan? Karena siswa mempunyai kebebasan untuk memilih mata pelajaran ketika duduk di kelas XI dan XII. Seperti halnya di bangku kuliah, mereka diberikan keleluasaan untuk memilih mata pelajaran dengan ketentuan yang sudah ada.
Semoga saja Kurikulum Merdeka ini menjadi angin segar bagi anak-anak Indonesia karena mengingat dulu (sebelum pandemi) saat Kurikulum 2013 sangat padat dan juga dituntut untuk selalu belajar tanpa jeda. Ayo semangat belajar lagi ya, belajar itu merupakan hal yang bisa dilakukan dimana saja termasuk di sekolah.
Salam.
source picture: smpn1kretek.sch.id
Anak2ku sekolahnya blended dan foundernya salah satu yang turut membantu merumuskan kebijakan kurikulum merdeka ini.
menurutku emang ini yang paling cocok sih. tapi buat guru atau ortu atau bahkan murid sendiri yang mindsetnya masih kompetisi, hafalan dll kyknya bakalan kagok menerapkan ini.
Kalau di sekolah anak2 alhamdulillah selain kompetisi juga sangat menekankan kolaborasi. Anak2 juga dibiarkan menuangkan gagasannya. Kerasa bedanya ma sekolah konven apalagi yang jadul hehe.
Wah sekolahnya daerah mana ini kak? gurunya open minded, keren..
Anak kedua saya sekarang kelas X dan sekolahnya menerapkan Kurikulum Merdeka, Mbak. Kemarin kami berdiskusi tentang matpel apa yang akan dia ambil untuk kelas XI karena dia sudah punya cita-cita ingin jadi psikolog. Alhamdulillah, meski bukan seorang psikolog, saya suka psikologi jd bisa ikut menyarankan matpel apa yang sebaiknya dia ambil dan mengingat kimpetensi apa yang dibutuhkan untuk masa depan, pilihan2 itu saya sarankan padanya. Putri saya mengambil 5 matpel utk sekolah sebanyak 25 jam pelajaran per pekan. Itu saja, gak perlu belajar banyak matpel lagi.
Wah seneng dengernya mbak, sudah bisa tau apa yang diinginkan nantinya. Iya, jadi pelajarannya lebih simpel ya mbak.
semoga kurikulum merdeka ini bisa membuat anak anak kembali semangat belajar dan orang tua juga tidak mengeluh saat mendampingi anak belajar. saya sebagai ortu anak kelas V SD, saat pandemi dan belajar di rumah luar biasa stresnya. karena kurikulumnya yang menurut saya memang jauh dari masa sekolah dulu. anak-anak yang dituntut menuntaskan tematik dengan mata pelajaran bercampur2 dalam satu buku, seperti bahasa indonesia, pendidikan pancasila, IPS dan IPA membuat bingung
Semoga memberikan banyak manfaat dan bertahan lama kurikulumnya ya, karena kasihan juga peserta didiknya kalau ganti kurikulum terlalu cepat
Krikulum sekarang dibuat makin ramah anak dan kebutuhannya ya. Juga menyesuaikan dengan kemampuan literasi dan numerasi. Tinggal bagaimana regulasi pemerintah daerah dan sekolah serta kreativitas guru. Kalau ketemu guru yang pas, bakalan sangat dahsyat hasilnya.
Suka banget baca ini.
Perubahan Kurikulum memang sering kali membuat Guru kagok namun seiring berjalannya waktu tentu mulai bisa menyesuaikan. Perubahan memang tidak bisa langsung total. Mudah-mudahan kurikulum merdeka membuat anak minat belajar dan memberikan efek yang baik kedepannya.
semoga kurikulum ini bisa jadi salah satu solusi biar anak kembali semangat belajar dan sekolah ya.
Pusing bgt dg kurikulum di Indonesia nih, sering ganti2 dan gak pasti kayak kelinci percobaan, kasian generasi mudanya
Kurikulum merdeka ini kayak fleksibel tapi tetap di jalur pendidikan yang relevan. Bisa mengasah kemampuan siswa di bidang masing-masing, dan tidak ada padatnya tugas serta hapalan.
sebetulnya gak jauh beda sih kalau saya lihat antara kurikulum merdeka dengan k13, bedanya merdeka lebih banyak praktikum. sistem belajar kedua kurikulum sama, lebih sederhana dan emang esensinya aja, tapi disini dibutuhkan peran guru yang harus mampu menjelaskan dengan detail terkait proses. kalau gak, anak akan bingung dan gak paham. ortu juga punya peranan cukup besar sih. cuman bingungnya, karena tidak ada buku bahan ajar seperti kurikulum sebelumnya, ini yang bikin bingung ortu yang udah lupa materi sekolah ngejelasin ke anak. solusinya? kembali ke mba google
Saya sebagai mahasiswa keguruan turut mengapresiasi hadirnya kurikulum merdeka. Meskipun dalam beberapa kasus implementasi di lapangan, masih ada guru yang cenderung mempertahankan sistem pembelajaran konvensional. Tapi yang jelas kurikulum ini adalah bagian jawaban atas ungkapan “setiap orang memiliki keunikannya masing-masing” sehingga mereka bebas menentukan pembelajaran sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki.