“Mangrove bisa menjadi sumber pangan, kok bisa?”
Pertanyaan sederhana itu sempat membuat saya mikir, kok bisa? Langsung mencoba mengingat bentuknya saat menanam mangrove dulu di Semarang.
Heran pasti ya, soalnya ketika mendengar kata mangrove, yang terlintas biasanya adalah kawasan pesisir, akar-akar yang tumbuh di air, atau tanaman yang berfungsi menahan abrasi. Tidak banyak dari kita yang langsung membayangkan mangrove sebagai bagian dari sumber pangan dan penghidupan masyarakat.
Ilmu yang berharga ini, saya dapatkan ketika mengikuti webinar tentang Ketahanan Pangan Lokal melalui penguatan kelompok perempuan dalam pemanfaatan mangrove di Kampung Friwen, Raja Ampat, yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad bersama The Asia Foundation.
Dari pembahasan tersebut, saya kembali diingatkan bahwa menjaga alam ternyata tidak selalu berarti membiarkannya begitu saja. Alam bisa dimanfaatkan, tetapi dengan cara yang bijak, terukur, dan tetap memperhatikan keberlanjutannya. Intinya sih, kita memang bisa simbiosis mutualisme dengan alam.
Ketika Mangrove Bukan Sekadar Tanaman Pesisir
Kampung Friwen di Raja Ampat menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat berusaha mengembalikan fungsi mangrove yang sebelumnya mengalami tekanan akibat pemanfaatan kayu. Pemulihan tidak dilakukan secara instan. Ada proses mengenali kawasan, memetakan jenis mangrove, membuat pembibitan, menanam kembali, hingga melibatkan masyarakat dalam menjaga kawasan tersebut. Menariknya, upaya menjaga mangrove kemudian berjalan beriringan dengan pengembangan potensi pangan. Salut banget sama masyarakat disana bisa berpikir ke ranah yang berbeda tapi jenius.

Salah satu jenis mangrove yang dibahas adalah Bruguiera gymnorrhiza. Bagian buahnya dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Artinya, mangrove tidak hanya dipandang sebagai tanaman yang harus dilindungi, tetapi juga sebagai sumber daya lokal yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat apabila dikelola dengan tepat.
Di sinilah peran masyarakat, khususnya kelompok perempuan, menjadi menarik untuk diperhatikan. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat dari lingkungan yang terjaga, tetapi juga iku terlibat dalam pengolahan produk, kegiatan ekonomi, hingga upaya menjaga kawasan mangrove. See, saat alam dijaga, mereka akan memberikan manfaat juga untuk kita. Nyatanya sebagian manusia lebih suka merusak alam tanpa tahu alam merupakan bagian dari kehidupan yang sangat penting untuk kita.
Purbalingga punya apa ya?
Cerita tentang alam sebagai sumber kehidupan ternyata tidak hanya ada di Raja Ampat.
Di Purbalingga, ada cerita lain yang berasal dari pohon yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan: pohon kelapa. Jika di Raja Ampat masyarakat melihat potensi dari mangrove, masyarakat Purbalingga memiliki pohon kelapa yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Pohon kelapa bukan hanya menghasilkan buah. Dari pohon inilah para penderes mendapatkan nira yang kemudian dapat diolah menjadi gula kelapa, termasuk gula kristal. Yang menarik, produk yang berawal dari nira dan dikerjakan oleh masyarakat di pedesaan ini ternyata tidak berhenti di pasar lokal. Gula kristal dari Purbalingga telah menjadi bagian dari rantai pasok yang menjangkau pasar internasional. Keren banget kan! Fyi, produksi sapu glagah dari Purbalingga juga mendunia lho!
Back to topic, dari sebuah pohon kelapa di desa, perjalanan sebuah produk bisa begitu panjang.
Ada penderes yang mengambil nira. Ada masyarakat yang mengolahnya. Ada proses pengeringan dan pengolahan. Ada pengemasan. Ada standar mutu yang harus dijaga. Hingga akhirnya, produk tersebut dapat dikonsumsi oleh orang yang bahkan mungkin tidak pernah tahu di mana pohon kelapa itu tumbuh. Di titik ini, saya justru merasa bahwa gula kristal bukan hanya tentang sebuah produk.
Dari Sebatang Pohon, Ada Banyak Kehidupan
Kadang kita terlalu mudah melihat sesuatu hanya dari hasil akhirnya. Kita melihat gula kristal dalam kemasan, tetapi lupa bahwa semuanya bermula dari sebatang pohon kelapa. Kita melihat produk pangan dari mangrove, tetapi mungkin lupa bahwa bahan tersebut berasal dari ekosistem pesisir yang harus tetap dijaga.
Padahal, di balik setiap produk lokal, ada alam yang menyediakan bahan baku dan ada manusia yang mengolahnya menjadi sesuatu yang bernilai. Pohon kelapa menjadi sumber nira. Nira menjadi bahan baku gula. Gula kemudian memiliki nilai ekonomi dan membuka peluang pasar yang lebih luas. Sementara itu, mangrove memberikan manfaat ekologis bagi kawasan pesisir, sekaligus membuka peluang pemanfaatan pangan dan ekonomi bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Dua tanaman yang berbeda. Dua wilayah yang berbeda. Dua cara pemanfaatan yang berbeda. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan dimana alam yang dikelola dengan bijak dapat menjadi sumber kehidupan tanpa harus kehilangan fungsinya sebagai penjaga lingkungan.
Menjaga Alam Tidak Harus Berarti Menjauhinya
Ada satu hal menarik yang saya tangkap dari cerita Raja Ampat dan Purbalingga. Selama ini, menjaga alam terkadang dipahami sebagai larangan untuk memanfaatkannya. Seolah-olah ketika kita ingin menjaga hutan, maka manusia harus benar-benar menjauh dari hutan.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.Masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam justru memiliki pengetahuan tentang bagaimana alam dapat dimanfaatkan tanpa harus dihancurkan. Pohon kelapa bisa dipanen niranya tanpa harus menebangnya. Mangrove bisa dipelajari dan dimanfaatkan potensinya tanpa menghilangkan kawasan tempatnya tumbuh.
Di sinilah pentingnya keseimbangan. Bukan mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi mengambil secukupnya sambil memastikan sumber daya tersebut tetap tersedia untuk waktu yang panjang. Karena kalau sumber dayanya habis, masyarakat juga yang akan kehilangan sumber penghidupannya.
Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan
Kalau dipikir lebih jauh, hubungan antara lingkungan dan pangan ternyata sangat dekat.
Ketika kita menjaga hutan dan pepohonan, sebenarnya kita tidak hanya menjaga tanaman. Kita juga menjaga tanah, air, udara, hewan, serangga, dan berbagai tumbuhan lain yang hidup di dalamnya.
Semua bagian tersebut membentuk sebuah ekosistem, dan dari ekosistem yang sehat itulah berbagai sumber pangan dapat terus tersedia. Karena itu, jaga hutan berarti juga jaga sumber pangan. Bukan berarti semua pohon harus menghasilkan makanan yang langsung kita konsumsi. Lebih luas dari itu, menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga agar manusia memiliki banyak pilihan sumber kehidupan.
Bayangkan jika satu sumber pangan terganggu akibat perubahan iklim, kekeringan, banjir, penyakit tanaman, atau kerusakan lingkungan. Kita akan lebih rentan jika hanya bergantung pada satu jenis sumber pangan. Namun, ketika alam masih memiliki keanekaragaman hayati yang terjaga, berbagai sumber pangan dapat saling melengkapi.
Ada hasil pertanian, perkebunan, hasil laut, buah-buahan, tanaman lokal, dan berbagai sumber pangan lainnya. Alam pada dasarnya adalah “pasar” terbesar yang pernah dimiliki manusia. Tetapi pasar itu hanya akan terus menyediakan jika kita tidak mengambil semuanya tanpa memikirkan keberlanjutannya.
Perubahan Iklim Membuat Kita Harus Berpikir Lebih Jauh
Pembicaraan mengenai pohon dan hutan menjadi semakin penting ketika perubahan iklim mulai semakin terasa. Cuaca yang berubah, musim yang tidak selalu mudah diprediksi, suhu yang meningkat, hingga berbagai bencana lingkungan membuat kita semakin sadar bahwa kondisi alam memiliki hubungan langsung dengan kehidupan manusia.
Pepohonan dan hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Karena itu, menjaga kawasan hijau bukan hanya persoalan keindahan. Ada fungsi ekologis yang jauh lebih besar di dalamnya.
Hutan menyimpan karbon, membantu menjaga tata air, menjadi habitat berbagai makhluk hidup, sekaligus menyediakan berbagai sumber daya yang dapat mendukung kehidupan manusia. Mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Pohon kelapa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di pedesaan. Keduanya menunjukkan bahwa tanaman bukan hanya soal apa yang dapat kita ambil dari alam, tetapi juga apa yang mereka berikan kepada lingkungan.
Karena itu, pembicaraan tentang aksi iklim, perlindungan hutan, dan keberlanjutan menjadi semakin relevan. Upaya menghadapi perubahan iklim tidak hanya dilakukan melalui kebijakan besar atau forum internasional, tetapi juga melalui keputusan-keputusan kecil di tingkat masyarakat: menjaga pohon, merawat hutan, mempertahankan sumber pangan lokal, dan memanfaatkan alam secara bertanggung jawab.
Jangan Lupakan Orang-Orang di Balik Produk Lokal
Ada satu hal lain yang menurut saya tidak kalah penting. Ketika sebuah produk lokal berhasil menembus pasar yang lebih luas, jangan hanya melihat angka penjualannya. Lihat pula orang-orang yang berada di belakangnya. Ada penderes yang mungkin sudah bertahun-tahun naik ke pohon kelapa untuk mengambil nira. Ada keluarga yang kehidupannya terbantu dari hasil kebun. Ada masyarakat yang menjaga kualitas produk. Ada pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Begitu juga dengan masyarakat di sekitar mangrove. Ada orang-orang yang memilih untuk menjaga kawasan tempat mereka tinggal. Ada kelompok perempuan yang mengembangkan produk. Ada masyarakat yang belajar bahwa melindungi lingkungan ternyata juga dapat membuka peluang ekonomi. Karena pada akhirnya, keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang pohon. Keberlanjutan juga berbicara tentang manusia yang hidup bersama pohon tersebut.
Dari Raja Ampat hingga Purbalingga
Raja Ampat dan Purbalingga mungkin terlihat sangat jauh. Raja Ampat identik dengan laut, pulau-pulau kecil, terumbu karang, dan mangrove. Sementara Purbalingga lebih dekat dengan kehidupan pedesaan, perkebunan, dan pohon kelapa. Tetapi ketika kita melihat lebih dalam, keduanya memiliki cerita yang sama.
Ada alam.
Ada masyarakat.
Ada pangan.
Ada penghidupan.
Dan ada kebutuhan untuk menjaga semuanya agar tetap berjalan bersama.
Mangrove di Raja Ampat mengingatkan kita bahwa tanaman pesisir memiliki nilai ekologis sekaligus potensi pangan. Pohon kelapa di Purbalingga menunjukkan bahwa hasil dari sebuah tanaman lokal dapat diolah menjadi produk bernilai dan menjangkau pasar yang lebih luas. Keduanya memberikan pelajaran bahwa potensi lokal tidak selalu berarti sesuatu yang kecil. Sesuatu yang tumbuh di sekitar kita, yang mungkin selama ini dianggap biasa, bisa memiliki nilai besar ketika dikelola dengan pengetahuan, kreativitas, dan kepedulian.
Pada Akhirnya, Kembali kepada Cara Kita Memperlakukan Alam
Mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya “Apa yang bisa kita dapatkan dari alam?” Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting “Apa yang harus kita lakukan agar alam tetap bisa memberikan manfaat untuk generasi berikutnya?”
Pertanyaan kedua inilah yang menurut saya menjadi inti dari cerita mangrove Raja Ampat dan gula kristal Purbalingga.
Kita boleh memanfaatkan alam.
Kita boleh mengembangkan produk lokal.
Kita boleh membawa hasil bumi ke pasar yang lebih luas.
Tetapi semua itu akan memiliki arti yang lebih panjang jika sumber daya alamnya tetap dijaga.
Sebab pada akhirnya, menjaga tanaman dan ekosistem bukan hanya tentang apa yang bisa kita ambil hari ini. Kita sedang memastikan bahwa besok masih ada pohon yang tumbuh, masih ada air yang mengalir, masih ada tanah yang bisa ditanami, masih ada sumber pangan yang bisa diolah, dan masih ada masyarakat yang dapat menggantungkan hidupnya dari alam tanpa harus merusaknya.
Dari mangrove Raja Ampat hingga pohon kelapa di Purbalingga, kita belajar satu hal sederhana “ketika alam tetap hidup, manusia memiliki lebih banyak kesempatan untuk hidup sejahtera bersamanya”.
Jadi, mungkin benar bahwa jaga hutan = jaga pangan = jaga penghidupan. Karena menjaga alam hari ini bukan hanya untuk kita. Tetapi juga untuk mereka yang suatu hari nanti akan menikmati hasil dari pohon-pohon yang kita pilih untuk tetap hidup.
Salam.