Kebebasan, Kusta dan Indonesia

Sudah sangat lama saya tidak mendengar kata-kata “kusta”. Sering mendengar tentang penyakit kusta saat belajar di lembaga pendidikan. Namun ternyata setiap tahunnya, penderita kusta kian bertambah di Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ke-3 dunia dengan kasus terbanyak penderita penyakit kusta. Hal yang perlu diingat adalah penyakit kusta bisa disembuhkan. Belajar lebih banyak, saya melihat tayangan talkshow Ruang Publik (di channel yt KBR) “Suara Untuk Indonesia Bebas Kusta” yang diselenggarakan pada Juli 2023, bertepatan dengan kunjungan dan diskusi Sasakawa Health Foundation (SFH), salah satu donor potensial yang dihubungi oleh NLR.

NLR adalah sebuah organisasi non-pemerintah (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta. Selama sepuluh tahun terakhir ini, NLR Indonesia juga telah membangun dan mengorganisir kelompok perawatan diri bagi orang yang mengalami atau pernah mengalami kusta, bekerja sama dengan staf kesehatan dan supervisor kusta. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup orang yang pernah mengalami kusta.

Salah satu narasumber yaitu Mas Ardi Yansyah (OYPMK & Ketua Permata Bulukumba) menjelaskan bagaimana NLR sangat membantu organisasinya sebagai mitra NLR, “Saya rasa sangat luar biasa ya, karena saya sendiri selalu belajar terutama dari NLR. Bagaimana ketika memberikan pelatihan-pelatihan, kegiatan yang menjelaskan tentang kusta secara aspek medisnya. Walaupun kami pernah mengalami kusta, tentu kita harus melihat dari dua sisi ini yaitu dari aspek medis dan pengalaman kami. ” jelasnya. Ada rasa bahagia, karena bisa melihat semangat beljar dari teman-teman yang terkena kusta ini.

Leprosy atau kusta merupakan salah satu masalah pada kulit yang dapat menyerang jaringan kulit, saraf tepi, hingga sampai pada saluran pernapasan. Kusta terjadi karena adanya infeksi bakteri bukan virus, yaitu Mycobacterium leprae. Oleh karenanya penyakit ini dapat menular melalui percikan ludah penderitanya, misal saat terbatuk atau bersin. Gangguan ini sering kali ditandai dengan mati rasa pada tungkai dan kaki, kemudian disertai timbulnya lesi pada kulit.

Di Indonesia sendiri, kusta adalah penyakit yang umum terjadi, bahkan termasuk tertinggi. Berdasarkan data terakhir dari WHO pada tahun 2020, jumlah kasus kusta di Indonesia menduduki peringkat ketiga terbesar di dunia, yaitu sebanyak 8%.

Banyak mitos-mitos yang berkembang mengenai sakit kusta, padahal penyakit kusta ini bukanlah kutukan. Meski dapat menular, namun kusta adalah jenis penyakit kulit yang dapat ditangani dan jarang menjadi penyebab kematian. Tetapi infeksi bakteri ini berisiko mengakibatkan kecacatan. Bakteri kusta sendiri membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak dalam tubuh pengidapnya. Kusta juga memerlukan kontak dalam waktu lama untuk bisa menularkan infeksi. Teman-teman tidak akan dengan mudah tertular hanya dengan bersalaman, duduk bersama, bahkan berhubungan seksual.

sumber: dinkes.palukota.go.id

Selain penyebab utama di atas, kusta juga dapat menjangkit orang-orang dengan beberapa faktor, seperti sistem kekebalan tubuh terganggu, menetap ke kawasan endemik kusta, bersentuhan dengan hewan yang dapat menyebarkan bakteri kusta, seperti armadillo.  Adapun gejala kusta adalah sebagai berikut:

  1. Anhidrosis, yaitu kulit tidak mengeluarkan keringat
  2. Luka pada telapak kaki tidak terasa nyeri
  3. Kulit menjadi mati rasa, termasuk kehilangan kemampuan untuk merasakan sentuhan, tekanan, suhu, bahkan rasa nyeri
  4. Kulit terasa kering dan kaku
  5. Saraf membesar, umumnya pada lutut dan siku
  6. Alis dan bulu mata rontok permanen
  7. Mengalami mimisan
  8. Muncul bercak dengan warna lebih terang daripada kulit sekitarnya
  9. Terdapat benjolan atau bengkak pada telinga dan wajah
  10. Otot kaki dan tangan melemah
  11. Mata jarang mengedip dan menjadi kering
    Ulasan lebih lengkapnya mengenai jenis-jenis kusta, pengobatan kusta bisa klik link ini ya.

Dari talkshow saya kembali diingatkan, bahwa penyakit bukanlah kutukan dan manusia mempunyai martabat yang juga harus dihargai. Sebagai masyarakat yang masih awam terhadap penyakit ini, saya sendiri belajar bahwa tidak ada manusia yang menginginkan sebuah penyakit. Rasa menghargai, empati dan juga tidak mengintimidasi adalah salah satu hal yang bisa dilakukan kepada para penyandang suatu penyakit khususnya penyakit kusta ini. Rajin minum obat dan percaya akan adanya kesembuhan jika sudah periksa ke dokter. Oh iya, jika teman-teman ada yang ingin melihat talkshownya bisa klik link disini ya. Semoga semakin tahun, kasus kusta di Indonesia bisa turun dan masyarakat Indonesia bisa bebas dari kusta.

Salam.

Tinggalkan komentar