Ketika Hutan Kalimantan Terbakar, yang Hilang Bukan Cuma Pohon

Kebakaran bukan cuma api…

Hutan Kalimantan bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah warisan alam yang terbentuk selama jutaan tahun. Pohon meranti raksasa sudah ada di sana sejak sekitar 4 juta tahun lalu. Di bawahnya, terbentang tanah gambut: lapisan alami seperti spons raksasa yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan selama ribuan tahun.

Hutan ini juga rumah bagi orangutan, burung rangkong, dan ribuan spesies lain. Bagi masyarakat Dayak yang tinggal di sekitarnya, hutan adalah tempat hidup sehari-hari: dapur, apotek, dan perpustakaan hidup.

Hutan adalah dapur dan apotek

Di hutan gambut Kalimantan Barat tumbuh buah maram atau asam paya. Buahnya bersisik seperti salak, rasanya sangat asam, dan bisa diolah menjadi manisan, sirop, rujak, bumbu dapur, sampai obat.

Warga juga memanen rotan, rebung, pakis, pucuk ubi, dan daun pandan. Di ladang, mereka menanam puluhan varietas padi lokal. Di satu komunitas Dayak Iban di Kapuas Hulu, tercatat 237 jenis padi lokal dibudidayakan untuk menjaga ketahanan pangan.

Artinya, kalau satu tanaman gagal, masih ada tanaman lain. Itulah kekuatan keanekaragaman pangan: masyarakat tidak mudah kelaparan karena sumber makanannya banyak.

Contoh lain adalah sistem handil milik Dayak Ngaju di bantaran Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Jaringan saluran air buatan ini menjaga tanah gambut tidak kering dan mudah terbakar. Seorang tetua bahkan pernah berkata, selama handil masih berjaya, ia tidak pernah membeli beras selama 50 tahun.

Indonesia kaya pangan, tapi rapuh

Kekayaan pangan Kalimantan bukan kasus tunggal. Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman pangan terbesar di dunia. Di Papua, masyarakat mengenal sagu sebagai makanan pokok yang tumbuh di rawa-rawa. Di Nusa Tenggara, ada jagung, ubi, dan sorgum yang tahan kering. Di Sulawesi, ada beras merah, kelapa, dan aneka umbi. Di Jawa, ada puluhan varietas padi lokal yang sudah ditanam turun-temurun.

Namun kekayaan itu justru rapuh ketika alamnya rusak. Karhutla tidak hanya membakar hutan Kalimantan. Ia mengirim asap ke seluruh wilayah, mengganggu pertanian, dan memperparah krisis pangan. Ketika lahan gambut terbakar, karbon yang tersimpan ribuan tahun terlepas ke udara. Tanah menjadi kering, tanaman sulit tumbuh, dan sumber pangan lokal pun terancam.

Lalu api datang

Dalam beberapa bulan terakhir tahun 2026, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menghanguskan banyak wilayah. Yang hilang bukan hanya pohon dan udara bersih.

Pemuda adat Kalimantan Barat, Delly Sape, menggambarkannya dengan sedih: ketika kebakaran terjadi, bambu, kayu, dan obat-obatan tradisional habis. Yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga apotek, dapur, perpustakaan tempat belajar, dan identitas masyarakat.

Hutan yang biasanya menyediakan rebung, pakis, ikan, dan pucuk ubi berubah menjadi lahan hangus yang tidak bisa dipanen.

Dampaknya sampai ke ladang dan harga pangan

Kabut asap tebal menghalangi sinar matahari. Tanaman sayuran jadi kerdil dan pertumbuhannya tidak maksimal. Asap yang berlebihan juga mengganggu proses fotosintesis tanaman, sehingga panen buah terganggu.

Di Kalimantan Timur, penyerapan gabah lokal belum mencapai target karena kekeringan panjang. Dari target sekitar 23.000 ton, yang terealisasi baru sekitar 15.000 ton.

Di Kalimantan Barat, Badan Pusat Statistik memprediksi karhutla ikut menekan inflasi September 2026 karena pasokan dan distribusi pangan terganggu. Ketika hutan dan ladang tidak lagi bisa diandalkan, masyarakat terpaksa bergantung pada pasokan dari luar. Padahal, Indonesia sudah lama dikenal sebagai negara agraris dengan pangan yang beragam. Ketergantungan pada pasokan luar justru melemahkan kedaulatan pangan yang selama ini dijaga oleh masyarakat adat.

Yang paling sunyi: yang tidak terlihat

Saat hutan gambut terbakar, yang hangus bukan hanya pohon yang bisa dihitung. Varietas padi lokal yang hanya tumbuh di satu lembah bisa lenyap. Buah maram yang hanya berbuah di rawa gambut tertentu bisa hilang. Pengetahuan tentang tanaman mana yang bisa dimakan dan mana yang bisa jadi obat juga bisa ikut hilang sebelum sempat dicatat.

Dalam satu dekade, sepertiga hutan Kalimantan telah hilang, dan kerusakannya terus meningkat. Jika hutan adalah perpustakaan, api tahun ini membakar rak-rak yang belum sempat difotokopi. Di sinilah pentingnya menjaga keanekaragaman pangan nasional: bukan hanya soal variasi menu, tetapi soal ketahanan hidup masyarakat saat menghadapi krisis.

Kesimpulan

Karhutla bukan hanya bencana lingkungan atau kesehatan. Ia juga bencana pangan dan budaya.

Hutan Kalimantan terbentuk melalui proses jutaan tahun. Di dalamnya tersimpan kekayaan pangan yang luar biasa, dari 237 varietas padi hingga buah maram yang hanya tumbuh di gambut. Dalam beberapa bulan, api menghanguskan sebagian warisan itu. Dan yang hilang bukan hanya milik Kalimantan, tetapi bagian dari kekayaan pangan Indonesia yang seharusnya dijaga bersama.

Menjaga gambut tetap basah bukan sekadar mencegah asap. Itu adalah cara menjaga dapur, apotek, dan perpustakaan tetap hidup—agar kekayaan pangan yang dirawat ribuan tahun tidak berakhir sebagai abu dalam satu musim kemarau.

Tinggalkan komentar