Hai, masih seputar Banjarnegara ya..
Spot lain yang menjadi favoritku saat di Banjarnegara kemarin ketika mengikuti Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara adalah berkunjung ke pusat Kerajinan Keramik.
Beberapa Pusat Kerajinan Keramik bisa kita jumpai di sepanjang Jalan Banjarnegara-Purbalingga. Nah, jadi selama ini aku sering melewati tempat -tempat ini ketika pulang atau perjalanan ke rumah, tapi ya ga pernah mampir (hehe). Kalau boleh jujur si, dulu mikirnya paling harganya mahal, jadi ya.. ga pernah kepikiran buat mampir.
Tapi, alhamdulillah akhirnya bisa tau isi didalam galery-galery yang terpampang (hehe) dan ternyata ga semuanya mahal loh, penasaran kan gimana kunjungannya? check this out guys!
(Keramik Khas Banjarnegara)
Ciri utama dari Keramik Banjarnegara adalah terletak pada ukirannya, ukirannya tegas dan banyak bolong-bolongnya atau lubangnya. warna yang digunakan adalah warna yang gelap.
Keramik ini merupakan salah satu kearifan lokal dari masyarakat yang patut diacungi jempol. karena sekarang keramik – keramik ini sudah diakui dikancah internasional. Ibu Yanti, salah satu pengusaha Kerajinan Keramik di Banjarnegara mengungkapkan beliau sudah beberapa kali mengikuti pameran diluar negeri. dan tentu banyak bersaing dengan produk dari negara lain, misalnya Vietnam.
Kunjungan kemarin pun, Ibu Yanti dengan senang hati membagikan ilmunya dengan kami. beliau yakin bahwa dengan membagi ilmunya ini, tidak akan membuat rezeki yang didapat akan berkurang. tak terkecuali tamu dari luar negeri yang sengaja datang untuk belajar tentang keramik lebih dalam. (keren ya!)

(Ibu Yanti bersama Dinas Pariwisata Banjarnegara)
Proses pembuatan keramik bermacam-macam, ada yang menggunakan teknik putar, cetak ada juga dengan teknik pilin. kemarin juga sempat diajak ke pabrik untuk melihat proses pembuatan keramik-keramik cantik yang terpampang di galery. (seru dah!)
Oh iya kalian ada yang pernah liat poci? iya poci yang mungkin sebagian kalian tau itu dari kota Tegal. Nah, ternyata eh ternyata poci-poci tersebut hampir 90% diproduksi di Banjarnegara loh.. π ( ternyata yaa .. ) dan ini ini ternyata harga nya pun sangat bersahabat loh, harga untuk 1 pocinya adalah Rp 10.000.. (langsung kepikiran buat souvenir yahh .. haha). Selain poci, disana juga memproduksi asbak, guci,lilin, bangku (atau tempat untuk duduk) dan masih banyak lagi,
Nah buat kalian yang penasaran pengen mencoba buat keramik hasil karya sendiri, bisa loh.. disini kalian bisa belajar dan praktik langsung untuk membuatnya, cukup dengan Rp 15.000 – Rp 20.000 saja untuk setiap 2 jamnya..Belajar sabar, ulet plus mau bermain kotor-kotoran bisa kalian dapetin disini.

(Kak Idah sedang mencoba membuat keramik dengan teknik putar)
Buat para orang tua, pembelajaran ini juga sangat bermanfaat untuk anak-anaknya, dari pada terus mantengin gadget kan, lebih baik cari pengalaman langsung dengan berinteraksi dengan lingkungan.

(contoh keramik yang berbentuk lilin)
Semoga Kerajinan Keramik Banjarnegara bisa terus berkembang dan bisa menjadi kearifan lokal yang terus ada di masyarakat… (aamiin)
salam π


Semoga terus dilestarikan dan banyak pengikutnya membuat keramik di Banjarnegara ini.
π iya kak, ayok kapan main ke Purbalingga, #eehh
ΠΡΠΎΠ³ΠΎΠ½ ΡΠ°ΠΉΡΠ° Ρ ΠΈΡΠΏΠΎΠ»ΡΠ·ΠΎΠ²Π°Π½ΠΈΠ΅ΠΌ ΠΏΡΠΎΠ³ΡΠ°ΠΌΠΌΡ “Π₯ΡΡΠΌΠ΅Ρ” – ΡΡΠΎ ΡΠΏΠΎΡΠΎΠ± Π°Π²ΡΠΎΠΌΠ°ΡΠΈΠ·ΠΈΡΠΎΠ²Π°Π½Π½ΠΎΠ³ΠΎ ΠΏΡΠΎΠ΄Π²ΠΈΠΆΠ΅Π½ΠΈΡ ΡΠ΅ΡΡΡΡΠ° Π² ΠΏΠΎΠΈΡΠΊΠΎΠ²ΡΡ ΡΠΈΡΡΠ΅ΠΌΠ°Ρ . ΠΡΠΎΡ ΡΠΎΡΡ ΠΏΠΎΠ·Π²ΠΎΠ»ΡΠ΅Ρ ΠΎΠΏΡΠΈΠΌΠΈΠ·ΠΈΡΠΎΠ²Π°ΡΡ ΡΠ°ΠΉΡ Ρ ΡΠΎΡΠΊΠΈ Π·ΡΠ΅Π½ΠΈΡ SEO, ΠΏΠΎΠ²ΡΡΠ°Ρ Π΅Π³ΠΎ Π²ΠΈΠ΄ΠΈΠΌΠΎΡΡΡ ΠΈ ΡΠ΅ΠΉΡΠΈΠ½Π³ Π² Π²ΡΠ΄Π°ΡΠ΅ ΠΏΠΎΠΈΡΠΊΠΎΠ²ΡΡ ΡΠΈΡΡΠ΅ΠΌ.
Π₯ΡΡΠΌΠ΅Ρ ΡΠΏΠΎΡΠΎΠ±Π΅Π½ Π²ΡΠΏΠΎΠ»Π½ΡΡΡ ΠΌΠ½ΠΎΠΆΠ΅ΡΡΠ²ΠΎ Π·Π°Π΄Π°Ρ, ΡΠ°ΠΊΠΈΡ ΠΊΠ°ΠΊ Π°Π²ΡΠΎΠΌΠ°ΡΠΈΡΠ΅ΡΠΊΠΎΠ΅ ΡΠ°Π·ΠΌΠ΅ΡΠ΅Π½ΠΈΠ΅ ΠΊΠΎΠΌΠΌΠ΅Π½ΡΠ°ΡΠΈΠ΅Π², ΡΠΎΠ·Π΄Π°Π½ΠΈΠ΅ ΡΠΎΡΡΠΌΠ½ΡΡ ΠΏΠΎΡΡΠΎΠ², Π° ΡΠ°ΠΊΠΆΠ΅ Π³Π΅Π½Π΅ΡΠ°ΡΠΈΡ Π±ΠΎΠ»ΡΡΠΎΠ³ΠΎ ΠΊΠΎΠ»ΠΈΡΠ΅ΡΡΠ²Π° ΠΎΠ±ΡΠ°ΡΠ½ΡΡ ΡΡΡΠ»ΠΎΠΊ. ΠΡΠΈ ΠΌΠ΅ΡΠΎΠ΄Ρ ΠΌΠΎΠ³ΡΡ ΠΏΡΠΈΠ²Π΅ΡΡΠΈ ΠΊ Π±ΡΡΡΡΠΎΠΌΡ ΡΠ²Π΅Π»ΠΈΡΠ΅Π½ΠΈΡ ΠΏΠΎΡΠ΅ΡΠ°Π΅ΠΌΠΎΡΡΠΈ ΡΠ°ΠΉΡΠ°, ΠΎΠ΄Π½Π°ΠΊΠΎ ΠΈΡ Π½Π°Π΄ΠΎ ΠΈΡΠΏΠΎΠ»ΡΠ·ΠΎΠ²Π°ΡΡ ΠΎΡΡΠΎΡΠΎΠΆΠ½ΠΎ, ΡΠ°ΠΊ ΠΊΠ°ΠΊ Π½Π΅ΠΏΡΠ°Π²ΠΈΠ»ΡΠ½ΠΎΠ΅ ΠΏΡΠΈΠΌΠ΅Π½Π΅Π½ΠΈΠ΅ ΠΌΠΎΠΆΠ΅Ρ ΠΏΡΠΈΠ²Π΅ΡΡΠΈ ΠΊ ΡΠ°Π½ΠΊΡΠΈΡΠΌ ΡΠΎ ΡΡΠΎΡΠΎΠ½Ρ ΠΏΠΎΠΈΡΠΊΠΎΠ²ΡΡ ΡΠΈΡΡΠ΅ΠΌ.
ΠΡΠΎΠ³ΠΎΠ½ ΡΠ°ΠΉΡΠ° “Π₯ΡΡΠΌΠ΅ΡΠΎΠΌ” ΡΡΠ΅Π±ΡΠ΅Ρ Π½Π°Π²ΡΠΊΠΎΠ² ΠΈ Π·Π½Π°Π½ΠΈΠΉ Π² ΠΎΠ±Π»Π°ΡΡΠΈ SEO. ΠΠ°ΠΆΠ½ΠΎ ΠΏΠΎΠΌΠ½ΠΈΡΡ, ΡΡΠΎ ΠΊΠ°ΡΠ΅ΡΡΠ²ΠΎ ΠΊΠΎΠ½ΡΠ΅Π½ΡΠ° ΠΈ ΠΎΡΠ³Π°Π½ΠΈΡΠ½ΠΎΡΡΡ ΡΡΡΠ»ΠΎΠΊ ΠΈΠ³ΡΠ°ΡΡ Π²Π°ΠΆΠ½ΡΡ ΡΠΎΠ»Ρ Π² ΡΠ°Π½ΠΆΠΈΡΠΎΠ²Π°Π½ΠΈΠΈ. ΠΡΠΈΠΌΠ΅Π½Π΅Π½ΠΈΠ΅ Π₯ΡΡΠΌΠ΅ΡΠ° Π΄ΠΎΠ»ΠΆΠ½ΠΎ Π±ΡΡΡ ΡΠ°ΡΡΡΡ ΠΊΠΎΠΌΠΏΠ»Π΅ΠΊΡΠ½ΠΎΠΉ ΡΡΡΠ°ΡΠ΅Π³ΠΈΠΈ ΠΏΡΠΎΠ΄Π²ΠΈΠΆΠ΅Π½ΠΈΡ, Π° Π½Π΅ Π΅Π΄ΠΈΠ½ΡΡΠ²Π΅Π½Π½ΡΠΌ ΠΌΠ΅ΡΠΎΠ΄ΠΎΠΌ.
ΠΠ°ΠΆΠ½ΠΎ ΡΠ°ΠΊΠΆΠ΅ ΡΠ»Π΅Π΄ΠΈΡΡ Π·Π° ΠΈΠ·ΠΌΠ΅Π½Π΅Π½ΠΈΡΠΌΠΈ Π² Π°Π»Π³ΠΎΡΠΈΡΠΌΠ°Ρ ΠΏΠΎΠΈΡΠΊΠΎΠ²ΡΡ ΡΠΈΡΡΠ΅ΠΌ, ΡΡΠΎΠ±Ρ Π°Π΄Π°ΠΏΡΠΈΡΠΎΠ²Π°ΡΡ ΡΠ²ΠΎΡ ΡΡΡΠ°ΡΠ΅Π³ΠΈΡ ΠΊ Π½ΠΎΠ²ΡΠΌ ΡΡΠ΅Π±ΠΎΠ²Π°Π½ΠΈΡΠΌ. Π ΠΈΡΠΎΠ³Π΅, ΠΏΡΠΎΠ³ΠΎΠ½ ΡΠ°ΠΉΡΠ° “Π₯ΡΡΠΌΠ΅ΡΠΎΠΌ” ΠΌΠΎΠΆΠ΅Ρ Π±ΡΡΡ ΠΏΠΎΠ»Π΅Π·Π½ΡΠΌ ΠΈΠ½ΡΡΡΡΠΌΠ΅Π½ΡΠΎΠΌ Π΄Π»Ρ SEO, Π½ΠΎ Π΅Π³ΠΎ ΠΈΡΠΏΠΎΠ»ΡΠ·ΠΎΠ²Π°Π½ΠΈΠ΅ Π΄ΠΎΠ»ΠΆΠ½ΠΎ Π±ΡΡΡ ΠΎΡΠΌΠΎΡΡΠΈΡΠ΅Π»ΡΠ½ΡΠΌ ΠΈ Π² ΡΠΎΠΎΡΠ²Π΅ΡΡΡΠ²ΠΈΠΈ Ρ Π»ΡΡΡΠΈΠΌΠΈ ΠΏΡΠ°ΠΊΡΠΈΠΊΠ°ΠΌΠΈ.