Wisata Ke Hutan dan Efek Perubahan Iklim

Akhir akhir ini lagi pengen pergi ke tempat yang sejuk dan merefresh otak karena udah mulai suntuk dan kebul hati dan otaknya.

Karena memang sekarang ini ada banyak aktifitas baru misalnya menjadi istri dan tetap mengerjakan tesis yang udah lama menganggur. Membangun semangat baru setelah banyak badai yang menerpa. Ya, namanya kan hidup pasti banyak masalah dan hal yang harus dilalui. Harus tetap bersyukurkan tapi? Jadi ingat dulu pernah merasa sangat bersyukur bisa melihat Jawa Tengah dari atap Ungaran, Gunung Ungaran lebih tepatnya. Melihat pemandangan luar biasa yg tanpa sadar membuatku meneteskan air mata waktu itu. Indaaah sekali sampai hati saya meleleh dibuatnya. Es krim saya juga meleleh di tangan saat ini.

Perjalanan menuju puncak Gunung Ungaran merupakan medan yg berat karena saya masih newbie mendaki gunung. Sepanjang jalur terlihat begitu rindang, dan adem karena banyak pohon serta dan segar karena melihat bunga yg warna warni. Bunga ceplok telor yg lucu menurut saya tumbuh lebat disana. Selain itu, sepanjang jalan teman saya juga bercerita tentang pengalaman mendaki ke berbagai Gunung di Indonesia. Membandingkan banyak track dari berbagai gunung, pemandangan dan hutan sabana yg dilewati menjadi salah satu candu dan alasan teman-teman saya kembali mendaki. Katanya bakal ada yang kurang jika dalam kurun waktu 1-2 bulan tidak mendaki gunung lewati lembah.

Mengetahui keberadaan hutan dan wisata ke hutan menjadi kegiatan yang mampu mengurangi efek perubahan iklim. Kok bisa ya? Saat mengetahui keberadaan hutan, ternyata memberikan saya kesadaran tentang pentingnya peran hutan bagi makhluk hidup di bumi.

Hutan menjadi biodiversity yang memiliki arti keanekaragaman hayati. Semua jenis flora dan fauna yang hidup di muka bumi dengan variasi habitat yang beragam. Bagaimana jadinya jika hutan tak lagi menjadi biodiversity? Hutan habis karena penebangan pohon untuk lahan industri maupun pemukiman? Bagaimana rantai makanan yang selama ini sudah berlangsung puluhan tahun? Semua makhluk hidup akan terdampak dengan keseimbangan hutan yang tidak bisa terjaga. Fungsi hutan sangat berpengaruh pada perubahan iklim karena hutan menopang kebutuhan oksigen umat manusia di dunia (Oksigen alami dihasilkan dari hasil fotosintesis tumbuhan).

Berdasarkan hasil penelitian, satu pohon jika dikonversi ke rupiah bisa menghasilkan oksigen senilai Rp 1.174.000,00 per hari. Tentu pohon-pohon yang ditebang secara asal-asalan akan mempengaruhi ekosistem yang ada. Jika keseimbangan alam terganggu, dampaknya akan sangat dirasakan oleh manusia. Padahal fungsi pohon itu sendiri untuk menyerap air dan menyediakan oksigen secara gratis. Bayangkan saja apabila kita harus membeli oksigen untuk bernafas, berapa biaya yang dikeluarkan?

Ada suatu daerah di Kota Semarang yang sekarang sedang dikebut untuk pembangunan perumahan padahal dulunya bukit yang banyak ditumbuhi pohon. Sedih karena sekarang ini kawasannya terlihat gersang, terpikir juga satwa atau fauna yang menghuninya di gusur kemana? Punya tempat tinggal tidak ya sekarang? Oh iya, terkadang di jalan juga saya melihat banyak pohon yang diangkut yang diameternya lebih dari 30cm. Sedih rasanya, karena pohon yang sudah hidup bertahun-tahun kemudian ditebang begitu saja.

Selain cerita tentang hutan dan wisata ke hutan, terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan para milenial dalam menjaga hutan  sebagai mitigasi perubahan iklim yaitu donasi adopsi hutan, konsumsi hasil hutan (bukan kayunya) dan merayakan Hari Hutan Indonesia. Konsumsi hasil hutan (bukan kayunya) misalnya konsumsi buah-buahnya saja tetapi pohonnya dibiarkan.

Dengan mengenal peran hutan, kepedulian terhadap hutan akan meningkat sehingga sebagai generasi Indonesia yang ingin menjaga bumi bisa dimulai dengan peduli terhadap hutan #EcoBloggerSquad.

Salam.

20 pemikiran pada “Wisata Ke Hutan dan Efek Perubahan Iklim”

  1. Meskipun perubahan lingkungan yang tidak diinginkan seringkali membuat kita sedih, tetapi dengan kesadaran dan aksi kolektif, kita dapat berperan dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem. thanks for sharing kak

    Balas
  2. Nyaman kalau hutan di sekitar kita masih ada. Saya pernah tinggal di tempat yang lingkungannya rindang, nggak jauh dari situ ada hutan. Kalau pengen refreshing tinggal jalan sebentar ke hutan.

    Balas
  3. Climate change belakangan menjadi perhatian serius sih. Dan upaya untuk mencegahnya tidak hanya dari satu pihak, tapi perlu tindakan masal. Di samping itu RTH menjadi primadona di tengah pemanasan global. Karena biar bagaimana pun alam membawa rasa nyaman.

    Balas
  4. Sedihhh memang kalau lahan hijau banyak disulap jadi lokasi perumahan, ya, Mbak. Di depan rumahku aja sekarang sawahnya sudah berganti jadi pom bensin.
    Biasanya kalau sore aku sering lihat sunset di antara tumbuhan padi, sekarang sudah gak bisa lagi. *hiksss…

    Balas
  5. Jadi teringat dengan istilah bunga ceplok telor. Zaman dulu sepertinya anak-anak pun lebih dekat bermain dengan alam ya kak. Zaman sekarang, walau sudah mulai banyak lagi dibuat lahan-lahan hijau, tapi sepertinya greget untuk menghabiskan waktu bersama alam atau lingkungan sudah semakin berkurang ya. Mudah-mudahan semakin ke sini, semangat untuk merawat alam dan lingkungan sekitar di masyarakat semakin tumbuh ya.

    Balas
  6. saat ini, berkunjung dan menepi ke hutan adalah sebuah rutinitas mingguan saya, menikmati kesendirian ditengah suara2 burung dan desiran di sela2 dahan pohon, demi sebuah ketenangan batin..

    sebenarnya alam sudah menyiapkan “rumah” untuk kita.. berbaring lah dibawah pohonya yg teduh..

    Balas
  7. Hutan itu emang asik buat healing. Beberapa kali ikit kelas yoga ngadainnya juga di area perhutanan gitu. Selain tempat yang cocok buat meditasi, hutan juga menawarkan udara yang baik buat paru-paru. Makanya miris banget kalau banyak hutan ditebang, terus berganti dengan industri. 💔

    Balas
  8. Salah satu tempat healing paling bagus yaa hutan yaa Kak… Tempatnya itu menyejukkan, suasananya adem, dan membantu meredakan kepenatan kita sesaat..

    Memang sih, kondisi bumi sdg tidak baik2 saja krna perubahan iklim yang sering terjadi.. Semoga kita bisa lebih aware thd bumi ini.

    Balas
  9. aku tuh punya impian untuk naik gunung. Pengen healing dari hiruk pikuk perkotaan aja. di kota udah sumpek, di hutan atau pegunungan bisa recharge energi sekaligus menghirup oksigen yang bebas polusi.

    Balas
  10. Lalu bagaimana dampaknya kak jika saking banyaknya orang yang liburan kehutan apakah tidak akan berbalik menjadi merusak hutan? beberapa kasus yang terjadi seperti di jalur pendakian gunung gede, masa naik gunung sampe ngantri 😂

    Balas
  11. Semangat banget kalau ngobrolin perubahan iklim. Karena sebenernya kita semua bisa melakukan langkah sesederhana seperti yang kak Ros katakan di line terakhir, yakni konsumsi buah-buahnya saja tetapi pohonnya dibiarkan.
    Dan dengan adopsi hutan, misal memberikan sumbangan untuk menanam kembali hutan tertentu, semoga pohon-pohon kembali tumbuh dengan kuat di tempatnya dan alam kembali terjaga dari kerapuhannya.

    Balas
  12. Sebetulnya aku suka lihat gambar2 hutan yang hijau, masih rapat pohonnya, tapi kalau masuk sendiri ke hutan aku nggak berani. Takut binatang2 yang ada di dalamnya, trauma soalnya. Tapi aku sangat mendukung gerakan yang sifatnya menghijaukan hutan kembali atau menjaga kelestarian hutan. Apalagi sekarang banyak ya komunitas2 adopsi pohon, bahkan bisa dijadikan special gift juga. Keren banget…

    Balas
  13. sayangi hutan, udah harus banget.
    Banyak manfaat yang kita dapatkan dari hasil hutan ini. Oleh karenanya jangan hanya ambil manfaatnya aja ya, tetapi juga harus dijaga dengan baik

    Balas
  14. jaman sekarang, wisata ke hutan bersama keluarga bisa jadi pilihan terbaik untuk mengajar kepada anak perihal pentingnya hutan bagi manusia;, menjaga keberadaan hutan bisa membantu bumi untuk menjaga dari pemanasan global juga, belum lagi kekeringan yang menjadi ancaman nyata dan perubahan iklim jika hutan ikut ditebangi juga

    Balas
  15. Wisata ke hutan adalah kegiatan saya setiap hari di masa kecil saya. Bahkan kami bisa dibilang tinggal di hutan. Tapi dulu saat banyak di hutan, saya exciting saat akan pergi ke kota. Sekarang, saya sudah tidak punya waktu ke hutan. Jika pun ada waktu, sayang rasanya waktu jika dibuang2 bermain di hutan..

    Balas

Tinggalkan komentar