Buku “Love for Imperfect Things” Berhasil Membuat Saya Lebih Bahagia

Membaca buku menjadi kegiatan yang jarang saya lakukan, karena saya lebih suka menonton video maupun mendengarkan audio. Saya mengetahui buku ini dari salah satu platform podcast terkenal di Indonesia, nama channelnya adalah “Si Kutu Buku”. Meski saya hanya mendengarkan podcast sekilas atau sekitar 10 menit (karena merupakan rangkuman), saya seperti mendapat petunjuk untuk mencari dan memiliki buku ini. Alhasil, saya mendapatkan buku ini di gramedia. Sangat bahagia,

Buku “Love for Imperfect Things” merupakan buku karya Haemin Sunim yang merupakan seorang guru agama Buddha Zen dan penulis paling berpengaruh di Korea Selatan. Beliau berhasil menempuh pendidikan di UC Berkeley, Harvard, dan Princeton, hingga beliau mendapatkan pelatihan monastik di Korea dan mengajar agama Buddha di Hampshire College di Amherst, Massachusetts.

Buku yang saya punya ini merupakan buku cetakan keempat (Juni, 2021). Isi secara umum dari buku ini yaitu lebih menekankan pada pembelajaran yang beliau ambil saat bertemu dengan teman-teman beliau ataupun pengalaman beliau sendiri. Nah, tema menarik favorit saya yang ada pada buku ini yaitu mengenai mental health yang juga banyak dialami oleh sebagian orang.

Penulis juga ingin menyampaikan bagaimana banyaknya permasalah yang dihadapi oleh sebagian orang, tetapi kurang menyadari adanya penyakit tersebut (alasannya karena sifatnya sepele). Padahal, pada saat kita menyadari hal itu, dan berhasil mengobatinya maka akan membuat sebuah perubahan yang berarti. Karena menginjak usia yang lebih dewasa, terkadang ada emosi yang tidak tersalurkan dengan baik.

Di bab awal akan dibahas tentang “Jangan Menjadi Terlalu Baik“. Saya bisa merasakan, emosi yang ada dalam bab ini, karena sangat relate dengan saya yang merupakan anak pertama. Ada sebuah ungkapan dalam buku yang kemudian selalu terkenang. Mungkin tidak semua anak pertama merasakannya, tetapi tanpa sadar kebanyakan anak pertama sering mengalah dengan adiknya.

“Berbuat baiklah kepada dirimu sendiri lebih dahulu, baru kepada orang lain.”

Di bab selanjutnya akan di sampaikan bahwa kita itu layak untuk dicintai, tanpa harus mengerjakan apapun yang orang lain minta, karena kita adalah makhluk yang berharga. Ah, membaca buku ini membuat saya bisa berkaca pada diri sendiri. Apakah sudah membahagiakan diri sendiri? Apakah sudah bersikap baik kepada diri sendiri?.

Selain pembahasan mengenai memelihara diri, buku ini juga berisi tentang keluarga. Bagaimana, keluarga merupakan elemen yang sangat penting bagi diri kita. Saya jadi teringat bagaimana saat dulu (sekolah SMA) jauh dari orang tua, ternyata saya tidak bisa apa-apa tanpa kedua orang tua. Pembahasan lainnya dalam buku ini yaitu mengenai empati, hubungan, penerimaan dan lainnya. (Intinya saya sangat merekomendasikan, bagi teman-teman yang membutuhkan buku tentang pengembangan diri).

Baca Juga:
Apakah Kamu Suka Memberi Tip ke Ojol atau Tidak?
KuKira Kau Rumah, Sudah Nonton?

Beliau merupakan seorang biksu yang memiliki banyak pengalaman. Cara penyampaian yang beliau sampaikan dalam buku ini, seperti halnya beliau bercerita langsung kepada saya. Saya juga mulai mengikuti apa yang beliau sarankan. Mengenai bagaimana agar kita mampu untuk memaafkan orang lain yang sudah menyakiti kita, bagaimana melihat permasalahan itu seperti orang yang menyakiti kita juga mungkin merasakan kesakitan yang sama. Maka, saat kita bisa memahami apa yang orang lain rasakan, kita bisa lebih menerima dan memberikan maaf untuknya.

Ketika kita sudah bisa mencintai diri sendiri, dunia akan mulai melihat bahwa kita memang layak untuk dicintai. ‘Haemin Sunim.

Membaca setiap lembarnya setiap hari, sembari memahami dan mempraktikkan saran yang disampaikan. Membuat saya menjadi lebih relaks dan tenang sehingga saya lebih bahagia lagi.

Itu dia sedikit ulasan dari saya mengenai buku yang saya baca akhir-akhir ini, mungkin teman-teman mempunyai buku yang bisa direkomendasikan (isinya menakjubkan), langsung tulis aja ya di kolom komentar. Insya Allah bisa bermanfaat buat orang lain.

Salam

8 pemikiran pada “Buku “Love for Imperfect Things” Berhasil Membuat Saya Lebih Bahagia”

  1. Akh nice ! Ketika kita sudah bisa mencintai diri sendiri, dunia akan mulai melihat bahwa kita memang layak untuk dicintai. ‘Haemin Sunim.
    Tapi memang akan asyik ya bisa kenal siapa kita maka otomatis cinta diri dengan plus minusnya akan timbul ya mba

    Balas
  2. Seneng sama kata2 berbuat baiklah pada dirimu sendiri baru orang lain ini ungkapan yang bagus banget intinya jangan smpe deh hidup kita menderita gara2 orang lain ..cintai dirimu sndiri dlu baru orang lain kerenn deh

    Balas
  3. Kalau udah nemu buku yang bisa membuat kita terpesona, percaya deh, kita yang biasanya doyan nonton video jadi kena candu buku Mbak. Aku juga dulu gitu.
    Benar kata guruku, buku itu punya jodohnya alias pembacanya sendiri. Buku “Love for Imperfecta Things” sepertinya berjodoh dengan Mba Nisa

    Balas
  4. Kadang kita memang sering mendahulukan kepentingan orang dari pada membahagiakan diri kita sendiri
    Buku ini relete sekali dengan buku yang pernah saya baca kak, judulnya “Enjoy Every Sandwich – NIKMATI HIDUP SETIAP HARI SEOLAH HARI TERAKHIR KITA”

    Balas
  5. “Berbuat baiklah kepada dirimu sendiri lebih dahulu, baru kepada orang lain.” suka sama ini, kita kadang gak enakan emang kak jadi orang. harus masuk list buku segera nih buku ini. terima kasih ya kak ulasannya

    Balas

Tinggalkan komentar