Pesantren Kilat di Era Digital

Pengalaman luar biasa yaitu berbagi tentang perjalanan menggeluti hobi hingga bisa menghasilkan cuan. Berbagi tidak hanya pada talkshow atau webinar saja, pesantren kilat juga bisa dijadikan tempat untuk berbagi apapun yang berbau kebaikan.

Hari ini, di acara Pesantren Kilat di SMA Ma’arif Karangmoncol saya bertemu dengan teman-teman baru. Auranya penuh semangat dan sangat adem karena baru saja tadarus bersama. Tema pesantren kilat yang saya bawakan memberi warna baru, karena bertujuan agar pengetahuan siswa lebih luas mengenai digitalisasi. “Meraup Cuan di Era Digital” menjadi tagline yang saya gunakan hari ini.

Sebelumnya saya jadi nostalgia teringat dulu jaman SMA, saat itu warnet aja ngantri dan dulu hanya kenal dengan youtube dan fb saja. Sekarang semua informasi bisa di akses, bisa dipelajari dan bisa ditemukan. Tapi memang belum semua siswa bisa memanfaatkan gadget dengan lebih bijak dan bermanfaat. Kebanyakan masih hanya digunakan untuk scroll media sosial, game maupun chat saja.

Materi Pesantren Kilat

Diawal materi, saya buka dengan pertanyaaan bagaimana tren pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan yang masih akan bergantung pada perkembangan teknologi. Sehingga sebagai generasi penerus, kita juga harus melek dan mau belajar tentang apa saja dan bagaimana pemanfaatan teknologi yang bijak. Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang saat ini sedang naik daun, seperti Digital Marketing, SMM Specialist, Content Writer, Copy Writer, Content Creator, Streamer, Athlete E-Sports dan masih banyak lagi.

Sembari bercerita tentang pengalaman saya menulis, menjadi content writer dan content creator, saya termenung dan berfikir dalam hati “Ternyata banyak yang sudah terlewati dan membuat saya bahagia melihat proses yang sudah dilalui. Memang belum sampai pada akhirnya atau belum sampai pada puncaknya, tetapi yang terlihat adalah banyaknya tantangan yang sudah ditaklukan, banyaknya pencapaian atau konten yang sudah dihasilkan baik berupa tulisan, gambar maupun audio. Sempat minder karena banyak teman yang dulu bersama berjuang di tahun 2017 kini sudah memiliki agensi sendiri, tetapi saya baru maju sejengkal saja. Tak mau ambil pusing, solusinya adalah terus bergerak serta berkembang agar nanti sampai dititik yang semestinya. Mereka juga sudah berjuang, oleh karenanya saya juga harus berjuang”.

Perjuangan memang penuh air mata dan proses, dan menurut saya hanya perlu bertahan dan terus berproses.

Saat sharing berlangsung, saya menceritakan bagaimana pengalaman mencari cuan dengan menulis dan membuat konten. Bermula saat menyukai dunia menulis saat duduk di bangku SMA kemudian banyak bergabung dengan komunitas menulis saat belajar di perguruan tinggi. Selain menulis, saya juga suka bertemu dengan orang baru dan menjalin relasi setelahnya.

Tips Menulis dengan Metode 3S

Di tengah-tengah materi, saya memberikan tips menulis yaitu formula menulis dengan metode 3S “Star, Story dan Solution”. Teman-teman dari SMA Ma’arif Karangmoncol juga langsung mempraktikan bagaimana menulis dengan metode 3S ini. Masya Allah, banyak sekali tulisan yang sudah dibuat oleh para siswa dan saya sampaikan atau bacakan di depan forum. Tulisannya beragam, mulai dari trouble organisasi, cara agar tidak sakit hati, bagaimana tips bermain game dan lain sebagainya. Meskipun hanya diberikan waktu 5-10 menit, tapi akhirnya berhasil menulis berbagai tema.

Pesantren Kilat Kekinian
Pesantren kilat dengan materi yang tak biasa

Pertemuan hari ini sungguh berkesan, ada banyak pasang mata yang ingin tahu dan ingin masuk lebih dalam ke jenjang dunia kerja di era digital. Semoga bersama sama bisa menyambut baik perkembangan teknologi yang ada, terus belajar dan punyailah target yang ingin dilakukan maupun dicapai. Meskipun dari pedesaan, meskipun pelosok dan hanya menggunakan alat seadanya. Semangat!

Salam.

21 pemikiran pada “Pesantren Kilat di Era Digital”

  1. Jadi inget waktu sekolah dulu, kegiatan pesantren kilat menjadi hal yang ditunggu-tunggu karena kegiatan pembelajaran full dialihkan untuk itu hehehe. Pulang sekolahnya juga jadi lebih cepat.

    Tapi kalo di Jakarta, rata-rata sekolah mengadakan kegiatan ini hanya satu hari, sementara dulu seminim mungkin 3 hari.

    Balas
  2. Wah saya belum pernah merasakan pesantren kilat. Sebaliknya, saya adalah orang yang ingin masuk pesantren secara penuh sejak usia TK. entah karena apa, tapi memang saya yang minta ke orang tua.

    Balas
  3. Pembelajaran yang penting bagi anak-anak yang ingin memulai di bidang literasi.
    Semoga ilmunya terus memanjang manfaatnya sehingga ketika uda sukses nanti, mereka bakalan ingat bermula dari sebuah pesantren kilat semasa SMA.

    Balas
  4. Saya dulu merasa kalau pesantren kilat selalu identik dengan kegiatan yang terkadang pengemasannya terasa membosankan, Tapi kini bisa menjadi kegiatan menarik ya kak jika dikemas dengan baik. Salah satunya pengenalan dunia digital ke anak-anak

    Balas
  5. Semakin kesini memang harusnya makin banyak kegiatan bermanfaat buat anak-anak muda nih. Perkembangan digital membantu anak muda dapat ilmu darimana saja. Pesantren kilat gini pun bisa jadi lebih menyenangkan pastinya ya,Mba.

    Balas
  6. Kalau ada pesantren kilat saya ingat masa2 sekolah dlu seru dan dinantikan bngt krna saat itu kita gk perlu serius belajar hanya mengaji dan dmger kajian bareng temen2 ahh indah bngt masa2 itu

    Balas
  7. keren kak membagikan pengalaman tentang dunia menulis di pesantren kilat
    pastinya menginspirasi para peserta di snaa, bahwa menulis bisa loh menghasilkan cuan

    Balas
  8. Menutku ini hal baru bagi mereka. Karena umumnya yang paling populer adalah konten audio visual yang menampilkan video dan suara. Tapi ini tentang tulisan.

    Balas
  9. Semangat menyala, Kak Ros! Seru deh kalau bisa isi materi terkait literasi digital saat momen pesantren kilat seperti ini. Apalagi ada sesi praktek langsung yang bisa dibagikan ke peserta lain.

    Balas
  10. Pesantren kilat tapi materinya umum nih unik juga ya. Tapi mungkin bisa dikaitkan dengan agama juga sih biar nama pesantrennya tetap ada wibawa gitu. Jadi diintegrasikan materinya dengan materi umum.

    Balas

Tinggalkan komentar